Selasa

Kisah Sedotan

Namaku sedotan, temanku adalah kamu, aku adalah sebuah plastik yang difungsikan sebagai alat menyedot minuman (kebanyakan) dari sebuah tempat ke mulut kamu. Cita-citaku ingin masuk surga, sama seperti cita-cita kamu. Namun semua itu tergantung pada kamu, mudah-mudahan kamu ini seperti seorang teman yang kudambakan, yang bisa membawaku ke surga impianku, surga para sedotan, surga para plastik, surganya barang-barang yang sudah tidak dipergunakan lagi.

Tahukah kamu, seperti apa surga yang sangat kudambakan??

Jenis kami bukan tipe barang yang muluk-muluk yang banyak permintaan, yang banyak menuntut seperti kamu manusia. Aku dan teman-temanku hanya ingin berada ditangan yang benar, tangan yang peduli akan kebersihan, yang peduli akan lingkungan, yang peduli akan bumi ini, yang peduli akan generasi mendatang. Apabila aku berada ditangan yang seperti kusebutkan diatas, maka sudah sekitar 80 persen aku akan menempati surgaku yang sangat kuinginkan.

Surga yang kumaksud adalah ketika aku dapat dipergunakan kembali oleh siapapun dalam bentuk reinkarnasi apapun, sehingga aku menjadi berguna kembali, itulah surgaku. Aku sangat membenci manusia yang tidak peduli akan kebersihan, yang tidak peduli akan nasib bumi, ditangan manusia yang seperti itu biasanya aku hanya akan jadi barang yang menjijikkan, aku di injak-injak, aku bersatu dengan air comberan, aku digigit tikus got yang berpenyakit, mungkin juga aku dilindas mobil, atau terkubur di tanah sehingga membuatku terpaksa menghambat kesuburan tanah, aku benci itu, itulah nerakaku, aku tak mau berada disana !!

Aku sedang menangis kini, aku sedang diinjak sepatu besar penuh kotor yang dikenakan bapak-bapak berkumis tebal, bau sekali sepatunya, dari alas kakinya pun dapt kucium betapa joroknya bapak ini. Hoekkkk.. serasa ingin muntah saja aku!!

Teman, betul sekali apa yang kalian pikirkan, aku kini berada dalam neraka, aku tersiksa. Puluhan, ratusan, ribuan, jutaan, atau bahkan miliaran sedotan mungkin merasakan hal yan sama seperti yang kurasakan apabila kamu dan teman-temanmu yang kita percaya tak mau lagi peduli dengan kebersihan sekitar rumah kalian, kota kalian, atau lebih luas lagi bumi kalian..

Aku, sedotan, belum lagi temanku yang lain, plastik es, plastik pembungkus makanan, botol plastik, dan miliaran barang lain yang jumlahnya tak mungkin dapat kuhitung telah diadu domba oleh kamu dan teman-temanmu agar kami melumpuhkan kesuburan tanah, agar kami mencemari lingkungan dan membunuh bumi dengan menghentikan nafasnya, karena semua telah tertutup plastik. Bukankah kalian sendiri yang akan rugi nantinya ??

Teman, buatlah kami senang, kalian bisa bantu kami, semua itu belum terlambat..

Besok temanku bumi berulang tahun, mulailah dari hari ini untuk membuat ia senang, jangan biarkan aku membunuhnya!! Kumohon...


21 April 2010

Senin

Mau Curhat Lagi..


Hari ini saya mau nulis lagi, pengen curhat, setelah beberapa hari tidak nulis di blog rasanya gatal juga nih tangan. Saya mau curhat mengenai budaya kekerasan yang ada di negara kita tercinta ini, setelah saya menyaksikan secara langsung ataupun dari televisi yang tak henti-hentinya menyiarkan hal-hal yang berbau kekerasan, untuk konsumsi umum, bahkan tak mengenal waktu. Hal tersebut memang bukanlah lagi merupakan hal yang aneh, segala bentuk kekerasan yang saya kira saya tak perlu menceritakan apasajakah itu, karena setiap apa yang saya sebutkan, pasti semua orang sudah tahu dan menganggap hal tersebut sudah biasa. Saya hanya akan bercerita sedikit mengenai kejadian yang saya alami, yang saya prediksi hal itulah yang merupakan asal mula budaya kekerasan yang sekarang tidak dianggap tabu oleh siapapun, bahkan anak-anak.

Hal ini bermula ketika secara tidak sengaja saya memperhatikan kostum sepakbola tim kesayangan yang dikenakan oleh beberapa anak di Jakarta dan Bandung, sepertinya sih di kota lain juga sama saja, bukan bermaksud untuk menghakimi begitu saja, itu hanya prediksi..

Sekitar satu tahun silam ketika saya tinggal di Bandung, dalam perjalanan saya menuju salah satu mall disana dengan angkot, saya melihat di pinggir-pinggir jalan ramai sekali , bahkan membuat macet, “ada apa ya pak?” Tanya saya ke sopir angkot, “oh, Persib mau lawan Persija sore ini” jawabnya santai, sambil melihat saya melalui kaca spion-nya.

Banyak sekali anak kecil yang berteriak-teriak sambil menayanyikan lagu-lagu, yang saya dengar liriknya, harusnya tidak cocok untuk anak-anak seusia mereka, mungkin juga tidak cocok untuk semua. Banyak kata-kata kasar yang menghina tim kesebelasan lawan, belum lagi sekilas saya lihat baju yang mereka kenakan juga bertuliskan sarkasme “The Jak Anjing!!” dsb.. miris sekali melihatnya, apalagi ketika saya lihat disekitar mereka juga banyak orang tua yang cuek bebek membiarkan anak-anak mereka berkata kasar, memaki, atau mungkin para orang tua itu merasa bangga telah memupuk rasa kecintaan terhadap tim sepakbola lokal kota mereka terhadap anak-anaknya??

Suasana macet dan hingar binger dijalan, serta mengganggu pengendara lain menjadi pemandangan yang tidak aneh ketika tim kesayangan mereka akan bertanding di kandangnya, menurut beberapa orang.


Sekarang saya berada di Jakarta, bekerja disini. Suatu hari saya dan teman-teman kerjaan saya mengadakan meeting mingguan di Tugu Proklamasi, mencari suasana baru demi meningkatkan kualitas kerja, kata bos..

Ketika kami meeting, pandangan saya beralih kepada anak-anak disekitar kami yang sedang bermain bola plastik, ada sekitar enam orang mereka. Namun yang saya perhatikan adalah baju-baju yang mereka kenakan, sekitar empat orang dari mereka mengenakan baju oranye tim kesayangan mereka, hal yang sama yang saya temui ketika saya di Bandung adalah, didalam kaos mereka juga bertuliskan kata-kata sarkasme kedaerahan, ”Viking anjing!!”, ”jangan ada anjing-anjing viking di kota tercintaku”, dll.
Kenapa mesti begitu ya?? Kalau mau mempromosikan bagusnya tim kesayangan mereka, kenapa mesti menjelekan tim lain ya?? Kenapa mesti menggunakan kata-kata kasar ya?? Apakah kata-kata di baju itu tak bisa dibalut dengan sesuatu yang artistik ya?? Ini salah siapa ya, produsen kaos itu yang asal, yang tidak bertanggung jawab dengan apa yang mereka keluarkan ya, karena kaos itu dipakai anak-anak, dan banyak sekali saya lihat di pasar-pasar rakyat kaos sejenis. Atau memang para pembeli yang tidak perduli dengan apa yang mereka beli, atau terlalu bangga dengan tim kesayangannya, sehingga sah-sah saja apabila baju tersebut dipakai anaknya walaupun tulisan dalam kaos tersebut disadari atau tidak telah memupuk kebencian yang diajarkan pada anak mereka..

Selang beberapa bulan dikost-an, saya dan beberapa tetangga sengaja menonton sepakbola antara Persib dan Persija, semua santai, orang yang biasa teriak-teriak ketika nonton pun terlihat santai, atau mungkin mereka coba menghargai saya, mereka mungkin berfikir, saya suku sunda jadi pasti mendukung Persib, dan mereka semua pendukung Persija, walauupun pada kenyataanya saya tidak terlalu peduli dengan semua itu, saya hanya suka tim yang ketika bermain dapat memberikan penampilan terbaik mereka dan tentu saja menjunjung tinggi sportifitas, tak peduli tim manakah itu.

Lalu beberapa anak ikut nimbrung nonton juga, belum satu menit, mereka sudah melontarkan komentar-komentar kasar megenai penampilan tim Persib ”wah anjing tuh si anu, ngeXXXt!!” teriaknya tanpa rasa malu walupun kebanyakan yang nonton orang tua. Kerena merasa gerah, orang tua yang sejak tadi nonton bersama saya langsung menghardik anak-anak tersebut, dan serta merta mengusir mereka, merekapun pergi

Ya.. seperti itulah keadaan sekarang yang terjadi, itu hanya tentang sepakbola saja, ada lagi perang gengsi antar gang, antar RT, antar daerah, antar sekolah, antar kota, dan lain sebagainya, bahkan kemarin saya tau bahwa ada artis yang dimaki fans berat sebuat klub sepakbola, karena artis itu memakai kostum yang menyinggung tim kesebelasan kesukaannya, sampai memaki lho, padahal kan...ah.. aneh (saya liat twitter artis itu juga)..

Saya lalu bertanya pada diri sendiri, kenapa seperti itu ya??
Tidak bisakah kalian berdamai, tidak hanya fisik, verbal, tapi juga sikap, bukankah itu akan lebih indah??!! Bukankah perdamaian membuat hidup kita tenang??

15 April 2010

Jumat

ParTAI..

Melihat iklan di televisi, belum juga mulai masa kampanye, beberapa partai sudah mempromosikan partai mereka demi merebut simpati masyarakat, sehingga nanti pada saatnya mereka berharap juara pada pemilihan selanjutnya.

Saya teringat pada beberapa tahun silam, ketika itu saya baru lulus SMA, ketua pemuda dikampung saya mengajak ikut pawai kampanye di sebuh daerah di kota Bogor, lumayan jauh dari rumah saya. Sebelum berangkat pagi-pagi, saya makan dulu, takutnya memang tidak ada pembagian makan, karena semua panitia pasti repot mensukseskan acara kampanye kali ini. Betul saja, setibanya saya di rumah tim suskesnya, beberapa puluh orang sudah siap untuk berangkat, ada yang mukanya dicoreng-coreng dengan gambar lambang partai, ada yang rambutnya dicukur dengan mode lambang partai, ada yang memakai ikat kepala bergambar partai saja, ada orang tua yang membawa anaknya, ada beberapa motor yang didandani dan ditempel stiker gambar partai, mobil truk (yang akan saya dan kawan-kawan naiki, karena tidak membawa motor) yang juga sama ditempeli stiker-stiker partai, beberapa orang sibuk mengurusi sound system didalam truk, sehingga nanti kami bisa teriak-teriak mengagungkan nama partai yang kami dukung hari ini.

Hampir semua orang dikampung saya sibuk pada hari itu, tua muda, laki-laki maupun perempuan semua mempersiapkan diri untuk bisa ikut serta dalam kampanye partai yang sudah kami percaya, karena kami merasa kami akan mendapatkan angin segar, dapat meningkatkan kesejahtraan ekonomi, kemakmuran kampung, pendidikan yang murah dan berkualitas, rumah sakit yang tak perlu bayar dan hal-hal bagus lainnya yang membuat kami rela dengan sepenuh hati mendukung partai ini.
Dalam truk yang saya naiki hanya ada beberapa kardus air minum dalam gelas, yang dalam setengah perjalanan saja air itu sudah habis karena memang terik sekali matahari pagi ini. Disamping kiri, depan dan belakang truk yang kami naiki ada beberapa motor yang sejak tadi mengawal pelan, sambil membunyikan klakson dan membuat gaduh disepanjang jalan, belum lagi sound system yang ada dalam truk yang sejak tadi mic-nya dipegang secara bergantian dan terus saja mengagungkan partai dan calon wakil rakyat yang kita dukung.

Banyak orang yang melihat ulah kami disepanjang jalan itu, ada yang mendukung, karena mereka satu hati untuk memilih partai yang kami jagokan, namun tak sedikit yang mencibir, menunjukan muka muak (mungkin mereka berasal dari partai yang kontra dengan kami, atau mereka bukan dari partai mana-mana, hanya saja mereka merasa terganggu dengan kami yang melewati kampungnya dan membuat kegaduhan melalui mic dan klakson yang dibunyikan motor dan mobil yang beriringan, membuat hal yang tidak simpatik buat mereka), ada pula yang melemparkan botol-botol plastik kearah mobil kami, tentu saja beberapa pemuda yang jiwanya masih bergejolak seperti saya tidak terima dengan hal tersebut, lalu kami coba turun dan mengejar pelempar botol-botol tersebut, suasana memanas, dibawah matahari yang terik, lalu ada yang menyulut emosi, tak ayal kami semua turun dari truk, dan menangkap orang yang melempar tadi, beberapa orang yang sepertinya teman si pelempar tak tinggal diam, terjadilah pertengkaran, adu jotos tak terhindarkan. Namun hal tersebut tak berlangsung lama, polisi sudah siap dan berjaga, sehingga mereka dapat mengamankan situasi kacau ini. Saya puas karena beberapa kali saya mendaratkan pukulan saya kearah musuh, tanpa terkena satu pukulan pun dari pihak musuh, saya, kami anak muda yang darahnya masih bergejolak merasa sangat hebat dengan kejadian tersebut, demi membela partai dan calon yang kami jagokan, kami tidak mau partai kami dihina dan dilecehkan seperti itu!!

Lapar, haus, panas, tangisan balita yang sangat kencang dalam truk tak kami hiraukan yang penting kami dapat turut serta dan ambil bagian untuk mendukung jagoan kami pada pemilihan waktu itu.
Beberapa orang tim suskes yang berada dalam mobil pribadi yang ber-AC tampak tersenyum puas melihat dukungan kami yang begitu besar pada partainya, tampak mereka minum minuman segar bergambar jeruk dikalengnya, makan makanan ringan, sambil sesekali melihat keadan sekitar..
Itu kejadian beberapa tahun silam, namun pada tahun itu, setelah partai dan calon yang kami jagokan menang, semuanya kembali seperti semula, sepi lagi kampung kami, semua orang kembali ke aktifitas masing-masing. Bertani, menjadi pengangguran (karena mayoritas pemuda kampung kami pengangguran, termasuk saya), ada yang ngojek, ya seperti biasa lah, tak ada perubahan yang berarti, seperti yang sudah dijanjikan sebelumnya oleh calon jagon kami. Mungkin ia sudah senang di kursi DPR sana, atau mungkin terlalu pusing memikirkan kerjaan mereka, tak tahulah..

Melihat televisi rame-rame sambil ngobrol ngalor-ngidul di warung kopi menjadi kebiasaan kami orang-orang kampung. Ada berita mengejutkan mengenai anggota DPR yang ditangkap gara-gara kasus korupsi, ada pula berita lain mengenai anggota DPR yang sedang bersama wanita panggilan yang digerebek polisi disebuah hotel berbintang lima. Betapa terkejutnya kami, ternyata beberapa dari mereka adalah wakil-wakil yang kami pilih, yang kami agung-agungkan, yang kami bela mati-matian, yang apabila panas, haus, letih, lesu tak kami hiraukan demi melihat mereka berpidato, meniupkan angin segar nan penuh harapan ke telinga kami..
Iya, itu kejadian silam, tapi salahkah kalau kami sekarang selalu antipati terhadap pemilihan-pemilihan seperti itu??


03 April 2010