Hari ini saya bangun siang, karena kerja saya masuk siang. Sekitar pukul sebelas saya bangun. Saya kumur-kumur lalu bergegas untuk sarapan, hampir makan siang.
Sambil makan, saya lihat televisi, salah satu saluran tv menayangkan berita kriminal yang sudah sangat mengkhawatirkan, ada pembunuhan dalam sebuah keluarga, transaksi narkoba di tempat yang seharusnya mudah dijangkau polisi, skandal seks para anggota DPR yang terhormat, belum lagi kasus korupsi. Saya muak dengan semua itu “merusak nafsu makan saya saja”, lalu saya pindahkan saluran ke berita yang lain, tidak jauh beda dengan berita tadi, sekarang isinya adalah, para anggota dewan yang terhormat sedang ribut karena mereka tidak mencapai kata sepakat dalam rapatnya, mereka saling melecehkan dengan verbal, mengumpat dengan kata-kata kotor, dan ada pula yang saling melempar, apa ini??.
Sudahlah, saya lihat berita olahraga saja. Dalam berita tersebut sama saja, supporter salah satu kesebelasan berulah karena mereka tidak terima dengan kekalahan yang diderita tim kesayangannya. Mereka ribut, beberapa orang diamankan polisi dan mereka ketahuan membawa banyak senjata tajam yang telah mereka persiapkan sebelumnya dari rumah. Sungguh teman makan yang tidak mengasikkan!!
Selesai makan, saya langsung bergegas mandi, dan siap-siap berangkat kerja.
Setelah pintu kamar saya kunci, saya segera berangkat menuju stasiun. Dalam perjalanan menuju stasiun saya lihat banyak anak SD yang berlarian kearah saya, ternyata beberapa puluh meter dari mereka ada anak SD yang lain yang mengejar, sambil memutar-mutarkan sabuk mereka, saling mengumpat, yang lainnya melemparkan batu, umpatan-umpatan yang tidak pantaspun dilontarkanpun keluar dari mulut mereka, anjinglah, nge***tlah.. miris hati saya melihat itu semua..
Akhirnya saya tiba di stasiun, membeli tiket, dan segera berlari keatas, karena menurut informasi, kereta yang saya naiki akan segera tiba. Sekitar lima menit saya menunggu, akhirnya kereta datang. Setelah kereta berhenti orang-orang yang mau masuk memaksakan diri mereka masuk tanpa mempersilahkan orang yang mau keluar terlebih dahulu sehingga terjadi sedikit kekacauan, karena orang yang didalam juga memaksa keluar, takut keretanya keburu jalan, karena hanya sebentar saja berhenti. “woii, yang didalam dulu dong yang keluar, baru kalian masuk!!” teriak beberapa orang dari dalam.
Di dalam kereta saya berdiri, karena memang sudah lumayan penuh dan saya tidak dapat tempat duduk, kereta yang penuh oleh sampah, berisik karena banyak pengamen yang bisa dibilang mereka bukan mau menjual kebisaan yang mereka punya, lebih ke menjual kesedihan agar orang iba, mereka mengamen membawa anak-anak kecil yang.. entahlah, mungkin itu bukan anaknya, anak kecil yang seharusnya bermain di dunia yang damai, bukan dunia yang bising, kotor, dan sumpek seperti kereta ini.
Tak lama kemudian, pengemis lewat “mikum, minta sedekah” katanya berulang-ulang, ia juga membawa anak kecil, mungkin agar orang merasa iba melihatnya. Salamnya aja sudah salah!!
Digerbong lain saya mendengar beberapa keributan, setelah saya dengar dari bisik-bisik orang yang lewat, ternyata ada orang yang kecopetan, tasnya disilet, uangnya hilang semua.
Didepan saya ada muda mudi yang tengah asik ngobrol, usia mereka kira-kira 20 tahunan, namun herannya mereka sama sekali tidak mersa iba kepada ibu yang tua renta yang sudah sejak setengah jam lalu berdiri di sebelah saya, usia ibu itu kira-kira 70 tahunan, keringatnya mengucur deras, beberapa kali ia menyeka keringat dimukanya dengan kain kusam yang terus saja ia genggam.
Akhirnya kereta tiba di salah satu stasiun, namun bukan stasiun yang saya tuju, lama sekali kereta ini berhenti, entah ada apa. Beberapa orang memaki dan mengumpat, saya maklum karena memang suasana sesak kereta membuat otak menjadi panas, dan sayapun kesal, namun apalah guna, toh kekesalan saya tidak akan berguna jika saya hanya mengumpat. Di rel yang lain, saya liat kereta menuju Jakarta juga sedang diam, entah menunggu apa. Ramai sekali dan sama saja, tampak sesak, namun hal itu diperparah dengan banyaknya orang-orang yang naik di atas kereta, sungguh hal yang berbahaya, karena diatas kereta itu banyak sekali kabel listriknya.
Saya hanya bisa menghela nafas panjang, saya pejamkan mata.. lalu saya berdo’a dalam hati agar generasi selanjutnya tidak merasakan hal yang sama seperti apa yang saya dan orang-orang sekitar saya ini rasakan.
"Saya dari Indonesia, negara besar, adil, makmur, berbudaya, ramah tamah dan penuh kesopanan" ingin sekali bisa sambil berbangga mengucapkan kalimat itu..
28 Maret 2010


