Selasa

Kisah Sedotan

Namaku sedotan, temanku adalah kamu, aku adalah sebuah plastik yang difungsikan sebagai alat menyedot minuman (kebanyakan) dari sebuah tempat ke mulut kamu. Cita-citaku ingin masuk surga, sama seperti cita-cita kamu. Namun semua itu tergantung pada kamu, mudah-mudahan kamu ini seperti seorang teman yang kudambakan, yang bisa membawaku ke surga impianku, surga para sedotan, surga para plastik, surganya barang-barang yang sudah tidak dipergunakan lagi.

Tahukah kamu, seperti apa surga yang sangat kudambakan??

Jenis kami bukan tipe barang yang muluk-muluk yang banyak permintaan, yang banyak menuntut seperti kamu manusia. Aku dan teman-temanku hanya ingin berada ditangan yang benar, tangan yang peduli akan kebersihan, yang peduli akan lingkungan, yang peduli akan bumi ini, yang peduli akan generasi mendatang. Apabila aku berada ditangan yang seperti kusebutkan diatas, maka sudah sekitar 80 persen aku akan menempati surgaku yang sangat kuinginkan.

Surga yang kumaksud adalah ketika aku dapat dipergunakan kembali oleh siapapun dalam bentuk reinkarnasi apapun, sehingga aku menjadi berguna kembali, itulah surgaku. Aku sangat membenci manusia yang tidak peduli akan kebersihan, yang tidak peduli akan nasib bumi, ditangan manusia yang seperti itu biasanya aku hanya akan jadi barang yang menjijikkan, aku di injak-injak, aku bersatu dengan air comberan, aku digigit tikus got yang berpenyakit, mungkin juga aku dilindas mobil, atau terkubur di tanah sehingga membuatku terpaksa menghambat kesuburan tanah, aku benci itu, itulah nerakaku, aku tak mau berada disana !!

Aku sedang menangis kini, aku sedang diinjak sepatu besar penuh kotor yang dikenakan bapak-bapak berkumis tebal, bau sekali sepatunya, dari alas kakinya pun dapt kucium betapa joroknya bapak ini. Hoekkkk.. serasa ingin muntah saja aku!!

Teman, betul sekali apa yang kalian pikirkan, aku kini berada dalam neraka, aku tersiksa. Puluhan, ratusan, ribuan, jutaan, atau bahkan miliaran sedotan mungkin merasakan hal yan sama seperti yang kurasakan apabila kamu dan teman-temanmu yang kita percaya tak mau lagi peduli dengan kebersihan sekitar rumah kalian, kota kalian, atau lebih luas lagi bumi kalian..

Aku, sedotan, belum lagi temanku yang lain, plastik es, plastik pembungkus makanan, botol plastik, dan miliaran barang lain yang jumlahnya tak mungkin dapat kuhitung telah diadu domba oleh kamu dan teman-temanmu agar kami melumpuhkan kesuburan tanah, agar kami mencemari lingkungan dan membunuh bumi dengan menghentikan nafasnya, karena semua telah tertutup plastik. Bukankah kalian sendiri yang akan rugi nantinya ??

Teman, buatlah kami senang, kalian bisa bantu kami, semua itu belum terlambat..

Besok temanku bumi berulang tahun, mulailah dari hari ini untuk membuat ia senang, jangan biarkan aku membunuhnya!! Kumohon...


21 April 2010

Senin

Mau Curhat Lagi..


Hari ini saya mau nulis lagi, pengen curhat, setelah beberapa hari tidak nulis di blog rasanya gatal juga nih tangan. Saya mau curhat mengenai budaya kekerasan yang ada di negara kita tercinta ini, setelah saya menyaksikan secara langsung ataupun dari televisi yang tak henti-hentinya menyiarkan hal-hal yang berbau kekerasan, untuk konsumsi umum, bahkan tak mengenal waktu. Hal tersebut memang bukanlah lagi merupakan hal yang aneh, segala bentuk kekerasan yang saya kira saya tak perlu menceritakan apasajakah itu, karena setiap apa yang saya sebutkan, pasti semua orang sudah tahu dan menganggap hal tersebut sudah biasa. Saya hanya akan bercerita sedikit mengenai kejadian yang saya alami, yang saya prediksi hal itulah yang merupakan asal mula budaya kekerasan yang sekarang tidak dianggap tabu oleh siapapun, bahkan anak-anak.

Hal ini bermula ketika secara tidak sengaja saya memperhatikan kostum sepakbola tim kesayangan yang dikenakan oleh beberapa anak di Jakarta dan Bandung, sepertinya sih di kota lain juga sama saja, bukan bermaksud untuk menghakimi begitu saja, itu hanya prediksi..

Sekitar satu tahun silam ketika saya tinggal di Bandung, dalam perjalanan saya menuju salah satu mall disana dengan angkot, saya melihat di pinggir-pinggir jalan ramai sekali , bahkan membuat macet, “ada apa ya pak?” Tanya saya ke sopir angkot, “oh, Persib mau lawan Persija sore ini” jawabnya santai, sambil melihat saya melalui kaca spion-nya.

Banyak sekali anak kecil yang berteriak-teriak sambil menayanyikan lagu-lagu, yang saya dengar liriknya, harusnya tidak cocok untuk anak-anak seusia mereka, mungkin juga tidak cocok untuk semua. Banyak kata-kata kasar yang menghina tim kesebelasan lawan, belum lagi sekilas saya lihat baju yang mereka kenakan juga bertuliskan sarkasme “The Jak Anjing!!” dsb.. miris sekali melihatnya, apalagi ketika saya lihat disekitar mereka juga banyak orang tua yang cuek bebek membiarkan anak-anak mereka berkata kasar, memaki, atau mungkin para orang tua itu merasa bangga telah memupuk rasa kecintaan terhadap tim sepakbola lokal kota mereka terhadap anak-anaknya??

Suasana macet dan hingar binger dijalan, serta mengganggu pengendara lain menjadi pemandangan yang tidak aneh ketika tim kesayangan mereka akan bertanding di kandangnya, menurut beberapa orang.


Sekarang saya berada di Jakarta, bekerja disini. Suatu hari saya dan teman-teman kerjaan saya mengadakan meeting mingguan di Tugu Proklamasi, mencari suasana baru demi meningkatkan kualitas kerja, kata bos..

Ketika kami meeting, pandangan saya beralih kepada anak-anak disekitar kami yang sedang bermain bola plastik, ada sekitar enam orang mereka. Namun yang saya perhatikan adalah baju-baju yang mereka kenakan, sekitar empat orang dari mereka mengenakan baju oranye tim kesayangan mereka, hal yang sama yang saya temui ketika saya di Bandung adalah, didalam kaos mereka juga bertuliskan kata-kata sarkasme kedaerahan, ”Viking anjing!!”, ”jangan ada anjing-anjing viking di kota tercintaku”, dll.
Kenapa mesti begitu ya?? Kalau mau mempromosikan bagusnya tim kesayangan mereka, kenapa mesti menjelekan tim lain ya?? Kenapa mesti menggunakan kata-kata kasar ya?? Apakah kata-kata di baju itu tak bisa dibalut dengan sesuatu yang artistik ya?? Ini salah siapa ya, produsen kaos itu yang asal, yang tidak bertanggung jawab dengan apa yang mereka keluarkan ya, karena kaos itu dipakai anak-anak, dan banyak sekali saya lihat di pasar-pasar rakyat kaos sejenis. Atau memang para pembeli yang tidak perduli dengan apa yang mereka beli, atau terlalu bangga dengan tim kesayangannya, sehingga sah-sah saja apabila baju tersebut dipakai anaknya walaupun tulisan dalam kaos tersebut disadari atau tidak telah memupuk kebencian yang diajarkan pada anak mereka..

Selang beberapa bulan dikost-an, saya dan beberapa tetangga sengaja menonton sepakbola antara Persib dan Persija, semua santai, orang yang biasa teriak-teriak ketika nonton pun terlihat santai, atau mungkin mereka coba menghargai saya, mereka mungkin berfikir, saya suku sunda jadi pasti mendukung Persib, dan mereka semua pendukung Persija, walauupun pada kenyataanya saya tidak terlalu peduli dengan semua itu, saya hanya suka tim yang ketika bermain dapat memberikan penampilan terbaik mereka dan tentu saja menjunjung tinggi sportifitas, tak peduli tim manakah itu.

Lalu beberapa anak ikut nimbrung nonton juga, belum satu menit, mereka sudah melontarkan komentar-komentar kasar megenai penampilan tim Persib ”wah anjing tuh si anu, ngeXXXt!!” teriaknya tanpa rasa malu walupun kebanyakan yang nonton orang tua. Kerena merasa gerah, orang tua yang sejak tadi nonton bersama saya langsung menghardik anak-anak tersebut, dan serta merta mengusir mereka, merekapun pergi

Ya.. seperti itulah keadaan sekarang yang terjadi, itu hanya tentang sepakbola saja, ada lagi perang gengsi antar gang, antar RT, antar daerah, antar sekolah, antar kota, dan lain sebagainya, bahkan kemarin saya tau bahwa ada artis yang dimaki fans berat sebuat klub sepakbola, karena artis itu memakai kostum yang menyinggung tim kesebelasan kesukaannya, sampai memaki lho, padahal kan...ah.. aneh (saya liat twitter artis itu juga)..

Saya lalu bertanya pada diri sendiri, kenapa seperti itu ya??
Tidak bisakah kalian berdamai, tidak hanya fisik, verbal, tapi juga sikap, bukankah itu akan lebih indah??!! Bukankah perdamaian membuat hidup kita tenang??

15 April 2010

Jumat

ParTAI..

Melihat iklan di televisi, belum juga mulai masa kampanye, beberapa partai sudah mempromosikan partai mereka demi merebut simpati masyarakat, sehingga nanti pada saatnya mereka berharap juara pada pemilihan selanjutnya.

Saya teringat pada beberapa tahun silam, ketika itu saya baru lulus SMA, ketua pemuda dikampung saya mengajak ikut pawai kampanye di sebuh daerah di kota Bogor, lumayan jauh dari rumah saya. Sebelum berangkat pagi-pagi, saya makan dulu, takutnya memang tidak ada pembagian makan, karena semua panitia pasti repot mensukseskan acara kampanye kali ini. Betul saja, setibanya saya di rumah tim suskesnya, beberapa puluh orang sudah siap untuk berangkat, ada yang mukanya dicoreng-coreng dengan gambar lambang partai, ada yang rambutnya dicukur dengan mode lambang partai, ada yang memakai ikat kepala bergambar partai saja, ada orang tua yang membawa anaknya, ada beberapa motor yang didandani dan ditempel stiker gambar partai, mobil truk (yang akan saya dan kawan-kawan naiki, karena tidak membawa motor) yang juga sama ditempeli stiker-stiker partai, beberapa orang sibuk mengurusi sound system didalam truk, sehingga nanti kami bisa teriak-teriak mengagungkan nama partai yang kami dukung hari ini.

Hampir semua orang dikampung saya sibuk pada hari itu, tua muda, laki-laki maupun perempuan semua mempersiapkan diri untuk bisa ikut serta dalam kampanye partai yang sudah kami percaya, karena kami merasa kami akan mendapatkan angin segar, dapat meningkatkan kesejahtraan ekonomi, kemakmuran kampung, pendidikan yang murah dan berkualitas, rumah sakit yang tak perlu bayar dan hal-hal bagus lainnya yang membuat kami rela dengan sepenuh hati mendukung partai ini.
Dalam truk yang saya naiki hanya ada beberapa kardus air minum dalam gelas, yang dalam setengah perjalanan saja air itu sudah habis karena memang terik sekali matahari pagi ini. Disamping kiri, depan dan belakang truk yang kami naiki ada beberapa motor yang sejak tadi mengawal pelan, sambil membunyikan klakson dan membuat gaduh disepanjang jalan, belum lagi sound system yang ada dalam truk yang sejak tadi mic-nya dipegang secara bergantian dan terus saja mengagungkan partai dan calon wakil rakyat yang kita dukung.

Banyak orang yang melihat ulah kami disepanjang jalan itu, ada yang mendukung, karena mereka satu hati untuk memilih partai yang kami jagokan, namun tak sedikit yang mencibir, menunjukan muka muak (mungkin mereka berasal dari partai yang kontra dengan kami, atau mereka bukan dari partai mana-mana, hanya saja mereka merasa terganggu dengan kami yang melewati kampungnya dan membuat kegaduhan melalui mic dan klakson yang dibunyikan motor dan mobil yang beriringan, membuat hal yang tidak simpatik buat mereka), ada pula yang melemparkan botol-botol plastik kearah mobil kami, tentu saja beberapa pemuda yang jiwanya masih bergejolak seperti saya tidak terima dengan hal tersebut, lalu kami coba turun dan mengejar pelempar botol-botol tersebut, suasana memanas, dibawah matahari yang terik, lalu ada yang menyulut emosi, tak ayal kami semua turun dari truk, dan menangkap orang yang melempar tadi, beberapa orang yang sepertinya teman si pelempar tak tinggal diam, terjadilah pertengkaran, adu jotos tak terhindarkan. Namun hal tersebut tak berlangsung lama, polisi sudah siap dan berjaga, sehingga mereka dapat mengamankan situasi kacau ini. Saya puas karena beberapa kali saya mendaratkan pukulan saya kearah musuh, tanpa terkena satu pukulan pun dari pihak musuh, saya, kami anak muda yang darahnya masih bergejolak merasa sangat hebat dengan kejadian tersebut, demi membela partai dan calon yang kami jagokan, kami tidak mau partai kami dihina dan dilecehkan seperti itu!!

Lapar, haus, panas, tangisan balita yang sangat kencang dalam truk tak kami hiraukan yang penting kami dapat turut serta dan ambil bagian untuk mendukung jagoan kami pada pemilihan waktu itu.
Beberapa orang tim suskes yang berada dalam mobil pribadi yang ber-AC tampak tersenyum puas melihat dukungan kami yang begitu besar pada partainya, tampak mereka minum minuman segar bergambar jeruk dikalengnya, makan makanan ringan, sambil sesekali melihat keadan sekitar..
Itu kejadian beberapa tahun silam, namun pada tahun itu, setelah partai dan calon yang kami jagokan menang, semuanya kembali seperti semula, sepi lagi kampung kami, semua orang kembali ke aktifitas masing-masing. Bertani, menjadi pengangguran (karena mayoritas pemuda kampung kami pengangguran, termasuk saya), ada yang ngojek, ya seperti biasa lah, tak ada perubahan yang berarti, seperti yang sudah dijanjikan sebelumnya oleh calon jagon kami. Mungkin ia sudah senang di kursi DPR sana, atau mungkin terlalu pusing memikirkan kerjaan mereka, tak tahulah..

Melihat televisi rame-rame sambil ngobrol ngalor-ngidul di warung kopi menjadi kebiasaan kami orang-orang kampung. Ada berita mengejutkan mengenai anggota DPR yang ditangkap gara-gara kasus korupsi, ada pula berita lain mengenai anggota DPR yang sedang bersama wanita panggilan yang digerebek polisi disebuah hotel berbintang lima. Betapa terkejutnya kami, ternyata beberapa dari mereka adalah wakil-wakil yang kami pilih, yang kami agung-agungkan, yang kami bela mati-matian, yang apabila panas, haus, letih, lesu tak kami hiraukan demi melihat mereka berpidato, meniupkan angin segar nan penuh harapan ke telinga kami..
Iya, itu kejadian silam, tapi salahkah kalau kami sekarang selalu antipati terhadap pemilihan-pemilihan seperti itu??


03 April 2010

Sabtu

Saya dari Indonesia..

Hari ini saya bangun siang, karena kerja saya masuk siang. Sekitar pukul sebelas saya bangun. Saya kumur-kumur lalu bergegas untuk sarapan, hampir makan siang. 
 Sambil makan, saya lihat televisi, salah satu saluran tv menayangkan berita kriminal yang sudah sangat mengkhawatirkan, ada pembunuhan dalam sebuah keluarga, transaksi narkoba di tempat yang seharusnya mudah dijangkau polisi, skandal seks para anggota DPR yang terhormat, belum lagi kasus korupsi. Saya muak dengan semua itu “merusak nafsu makan saya saja”, lalu saya pindahkan saluran ke berita yang lain, tidak jauh beda dengan berita tadi, sekarang isinya adalah, para anggota dewan yang terhormat sedang ribut karena mereka tidak mencapai kata sepakat dalam rapatnya, mereka saling melecehkan dengan verbal, mengumpat dengan kata-kata kotor, dan ada pula yang saling melempar, apa ini??.
Sudahlah, saya lihat berita olahraga saja. Dalam berita tersebut sama saja, supporter salah satu kesebelasan berulah karena mereka tidak terima dengan kekalahan yang diderita tim kesayangannya. Mereka ribut, beberapa orang diamankan polisi dan mereka ketahuan membawa banyak senjata tajam yang telah mereka persiapkan sebelumnya dari rumah. Sungguh teman makan yang tidak mengasikkan!!

Selesai makan, saya langsung bergegas mandi, dan siap-siap berangkat kerja.

Setelah pintu kamar saya kunci, saya segera berangkat menuju stasiun. Dalam perjalanan menuju stasiun saya lihat banyak anak SD yang berlarian kearah saya, ternyata beberapa puluh meter dari mereka ada anak SD yang lain yang mengejar, sambil memutar-mutarkan sabuk mereka, saling mengumpat, yang lainnya melemparkan batu, umpatan-umpatan yang tidak pantaspun dilontarkanpun keluar dari mulut mereka, anjinglah, nge***tlah.. miris hati saya melihat itu semua..

Akhirnya saya tiba di stasiun, membeli tiket, dan segera berlari keatas, karena menurut informasi, kereta yang saya naiki akan segera tiba. Sekitar lima menit saya menunggu, akhirnya kereta datang. Setelah kereta berhenti orang-orang yang mau masuk memaksakan diri mereka masuk tanpa mempersilahkan orang yang mau keluar terlebih dahulu sehingga terjadi sedikit kekacauan, karena orang yang didalam juga memaksa keluar, takut keretanya keburu jalan,  karena hanya sebentar saja berhenti. “woii, yang didalam dulu dong yang keluar, baru kalian masuk!!” teriak beberapa orang dari dalam.

Di dalam kereta saya berdiri, karena memang sudah lumayan penuh dan saya tidak dapat tempat duduk, kereta yang penuh oleh sampah, berisik karena banyak pengamen yang bisa dibilang mereka bukan mau menjual kebisaan yang mereka punya, lebih ke menjual kesedihan agar orang iba, mereka mengamen membawa anak-anak kecil yang.. entahlah, mungkin itu bukan anaknya, anak kecil yang seharusnya bermain di dunia yang damai, bukan dunia yang bising, kotor, dan sumpek seperti kereta ini.
Tak lama kemudian, pengemis lewat “mikum, minta sedekah” katanya berulang-ulang, ia juga membawa anak kecil, mungkin agar orang merasa iba melihatnya. Salamnya aja sudah salah!!
Digerbong lain saya mendengar beberapa keributan, setelah saya dengar dari bisik-bisik orang yang lewat, ternyata ada orang yang kecopetan, tasnya disilet, uangnya hilang semua.
Didepan saya ada muda mudi yang tengah asik ngobrol, usia mereka kira-kira 20 tahunan, namun herannya mereka sama sekali tidak mersa iba kepada ibu yang tua renta yang sudah sejak setengah jam lalu berdiri di sebelah saya, usia ibu itu kira-kira 70 tahunan, keringatnya mengucur deras, beberapa kali ia menyeka keringat dimukanya dengan kain kusam yang terus saja ia genggam.
Akhirnya kereta tiba di salah satu stasiun, namun bukan stasiun yang saya tuju, lama sekali kereta ini berhenti, entah ada apa. Beberapa orang memaki dan mengumpat, saya maklum karena memang suasana sesak kereta membuat otak menjadi panas, dan sayapun kesal, namun apalah guna, toh kekesalan saya tidak akan berguna jika saya hanya mengumpat. Di rel yang lain, saya liat kereta menuju Jakarta juga sedang diam, entah menunggu apa. Ramai sekali dan sama saja, tampak sesak, namun hal itu diperparah dengan banyaknya orang-orang yang naik di atas kereta, sungguh hal yang berbahaya, karena diatas kereta itu banyak sekali kabel listriknya.

Saya hanya bisa menghela nafas panjang, saya pejamkan mata.. lalu saya berdo’a dalam hati agar generasi selanjutnya tidak merasakan hal yang sama seperti apa yang saya dan orang-orang sekitar saya ini rasakan.

"Saya dari Indonesia, negara besar, adil, makmur, berbudaya, ramah tamah dan penuh kesopanan" ingin sekali bisa sambil berbangga mengucapkan kalimat itu..

 28 Maret 2010

Jumat

Ngamen..

"Cerita ini terjadi ketika awal-awal saya masuk kelas 2 SMA ketika di sebuah sekolah negeri di Jakarta. Saya memilih teater sebagai ekstrakurikuler karena kecintaan saya akan dunia seni peran, tapi intinya sih, saya pengen terkenal, mungkin ini salah satu jembatan untuk menuju kesana. Setelah selesai kegiatan belajar mengajar, saya langsung menuju ke ruangan teater, karena sebelumnya sudah ada pengumuman mengenai kumpul-kumpul tersebut ketika tadi sebelum istirahat. Keingintahuan saya mengenai dunia teater semakin kuat saja, apalagi tadi kakak yang mengumumkan kepada kami(siswa yang tertarik kepada ekstrakurikuler teater) cantik luar biasa. Saya ketok pintu ruangan itu, lalu masuk. Ternyata sudah ada sekitar 20 orang-an di ruangan itu, termasuk kakak-kakak senior yang didalamnya ada juga kakak cantik siang tadi. "Silahkan masuk" kata kakak cantik tadi yang saya belum tahu namanya. Saya pun masuk dan segera duduk di ruangan itu, lalu kakak yang sejak tadi berbicara kepada forum didepan melanjutkan pembicaraannya. Lumayan asik teori yang disampaikan olehnya, saya terlarut didalam teori-teori yang menarik yang dia sampaikan. Tak terasa sekitar satu jam saya mengikuti ceramah itu. Intinya kami disuruh untuk melatih mental kami dulu sebelum praktek teater nanti.

Tes pertama untuk melatih mental itu adalah dengan cara turun ke jalan dan mengamen. Ah gampang itu, pikirku. Dan besok hari libur adalah hari pertama saya untuk mengetes mental saya di bus, untuk ngamen, lalu setelah itu saya harus menceritakan mengenai apa yang saya alami, lalu cerita kami nanti akan dinilai oleh kakak-kakak senior.

Hari ini hari minggu, pada pukul 10.00 WIB, setelah saya sarapan, saya langsung pergi menuju halte bis di daerah Senen. Ramai sekali disana, penuh orang lalu lalang meskipun hari ini hari libur. Dalam hati saya berdo'a semoga semua dilancarkan sehingga saya dapat melewati tahap pertama dengan sukses. Salah satu bis saya lihat sudah mulai penuh, dan tak tampak pengamen didalamnya, tak lama kemudian saya naiki saja bis itu, ya.. ramai sekali dalam bis itu, sekitar 15 menit bis itu melaju, saya masih saja memilih-milih lagu yang nanti mau saya bawakan. Akhirnya terpilih tiga lagu dalam playlist saya.. lagu anak muda jaman sekarang (pada waktu itu), lagu jadul (buat para orang tua) dan satu lagi lagu rohani.

Bismillahhirohmanirrahiim.. ya!! saya mulai dengan pembukaan, ada sekitar 5 menit saya berbicara dihadapan penumpang, lalu saya mulai dengan lagu pertama, kedua dan ketiga, pada kesemua lagu yang saya mainkan tampak rasa menikmati para penumpang, saya tahu itu, walaupun badannya diam, tapi kaki anak muda dihadapan saya ini tidak tinggal diam, bergerak mengikuti beat irama.

Lalu ada ibu-ibu diujung sana yang emang tampangnya garang dan tidak pernah memperlihatkan muka manis, badannya diam saja, namun kelingkingnya bergerak-gerak, saya tahu itu dari kaca spion sopir, karena ia duduk tepat dibelakang sopir.

Setelah semua lagu beres, saya mengucapkan penutupan, Baiklah ibu bapak, adik dan kakak-kakak yang saya cintai, kiranya itu saja lagu yang dapat saya mainkan hari ini, kurang dan lebihnya saya.. namun sebelum saya beres melakukan penutupan, "pindah pindah pindah!!!" teriak kernet kepada para penumpang, sehingga penumpang berhamburan keluar dan segera pindah ke bis lain, karena bis yang saya naiki ini tidak sampai ke pool-nya di Grogol. Saya terdiam dan hanya bisa diam  seolah tidak percaya".

Cerita diatas adalah cerita teman saya Fauzi, hal itu dia ceritakan ketika kami ngobrol-ngobrol mengenai mengamen..
Dan hari ini adalah ulang tahunnya..


27 Maret 2010

Selasa

Saya terinspirasi

Hari ini saya lelah sekali, lewati gang besar untuk mencapai kost-an dan segera merebahkan badan sejenak.
Saya buka kunci kamar, simpan tas yang saya bawa, nyalakan kipas angin, lalu menempelkan badan di kasur.
Panas sekali badan ini, putaran maksimal kipas angin tak mampu redakan panas dalam tubuh saya yang sepulang bekerja tadi.


Beberapa menit sambil memejamkan mata, saya teringat kejadian tadi sore ketika saya di kereta dari Depok menuju kost-an saya di Cikini.
Dalam kereta tadi saya bertemu 5 orang anak muda, 4 laki-laki, 1 perempuan. Mereka begitu gaduh, rame dan bahagia sepertinya setelah melewati hari-harinya. Saya lalu bertanya kepada salah seorang dari mereka, Raka namanya, ternyata dia seorang fundraiser atau pencari dana untuk sebuah LSM lingkungan global yang sudah terkenal, karena saya sangat tertarik dengan apa yang mereka lakukan, maka saya banyak bertanya mengenai dia dan teman-temannya, mengenai pekerjaan mereka dan suka duka yang mereka lalui ketika mereka melakukan pekerjaan tersebut.


Lalu Raka mulai bercerita, bahwa pada awalnya dia tidak tahu akan bekerja seperti sekarang ini. Ia turun ke jalan, busway, pusat perbelanjaan ataupun kampus-kampus untuk mensosialisasikan apa yang LSM lingkungan itu lakukan, kemudian mengajak orang untuk bergabung dengan LSM lingkungan itu, karena LSM itu adalah LSM yang independen, tidak menerima dana dari pemerintah, partai politik ataupun perusahaan, "supaya kami tidak ketergantungan, ataupun ada intervensi dari pihak manapun dalam penyelamatan lingkungan" katanya. "Berbagai hal sudah kami lalui," lanjut Raka "dari mulai ditolak orang, dicemberutin, dimarahin orang yang tidak setuju dengan kegiatan yang kami lakukan dan banyak-banyak lagi, namun itu semua tidak dapat meluluhkan semangat kami untuk ikut andil dalam penyelamatan lingkungan, malah tambah membuat kami jatuh cinta dan ingin terus menyelamatkan lingkungan, karena adanya LSM kami itu ya.. karena ada kami-kami ini para fundraiser-nya" tutup Raka dengan bangga.
Memang tampak ceria sekali teman baru saya ini, ia seakan tak pernah lelah, walaupun tadi dia cerita bahwa dia sudah dari sejak jam delapan menuju kampus di Bogor, dan baru pulang pukul tujuh malam, itupun belum sampai ke rumanya, mungkin akan menghabiskan waktu sampai pukul delapan ke rumahnya.
Kekaguman tak pernah padam dari raut muka saya, kekaguman kepada lima orang pemuda sebaya saya itu, karena saya yakin bahwa mengajak orang, meyakinkan orang, merubah paradigma orang dan membuat orang untuk mau mendonasikan uang itu bukan pekerjaan yang mudah.
Tapi kesan tersebut seolah hilang demi melihat senyum dan tawa ceria kelima orang tersebut.


Ya, mereka lima pemuda dari ribuan bahkan jutaan pemuda lainnya yang gigih mau berbuat sesuatu untuk penyelamatan lingkungan.


"Saya ingin berbuat sesuatu juga untuk lingkungan, dengan cara apapun" tekad saya, sambil pamit kepada mereka berlima yang terus saja meneruskan perjalanan, entah sampai mana, karena saya tadi tidak bertanya, mungkin terlalu asik dengan pokok bahasan mengenai mereka, dan tentu saja saya terinspirasi untuk berbuat sesuatu juga, itu harus.


22 Maret 2010

Sabtu

Pagi..

Arrrrggggghhhh...

berisik sekali pagi ini!!
pagi??
entahlah..
lalu saya cek hp yang selalu tepat berada disamping kepala, mengantarkan saya tidur dengan lagu-lagu yang sudah saya set di playlist. Musiknya sudah berhenti, karena memang saya set playlist-nya untuk tidak berulang, ngabisin batre aja..
Waktu di hp menunjukan pukul 9.00 WIB, hah!!! baru pukul sembilan?? pantas saja kepala ini pusing sekali, karena memang saya baru tidur pukul 3.00 dini hari.

Ya.. saya memang susah untuk tidur awal, apalagi sekarang saya tinggal di Jakarta, di kost-an kecil berukuran 2,5x3 meter (hanya berbalut tripleks saja), membuat saya selalu merasa kepanasan pada malam hari, sebenarnya saya sudah membeli sebuah kipas angin, namun itu juga merupakan sebuah malapetaka bagi saya, karena setiap pagi saya bangun, pasti saya masuk angin!! berbagai cara sudah dilakukan untuk mensiasati hal ini, namun tetap saja saya susah untuk tidur lebih awal seperti halnya orang kebanyakan.

Saya tak dapat melanjutkan tidur saya walaupun mata ini sangat berat, itu sama saja memanggang diri saya hidup-hidup. kamar kost-an saya sangat panaaass, sangat-sangat tidak bisa untuk dipakai bersantai, bermalas-malasan dengan bangun siang dan memanfaatkan waktu liburan hanya dengan tidur. Sangat-sangat-sangat TIDAK BISA!!!

Hal selanjutnya yang dilakukan setelah cek jam, telepon masuk dan sms di hp, saya bisanya mengambil air minum botol yang saya beli semalam, mengenai minum, sebenarnya bisa saja saya minta ke ibu kost di lantai bawah, namun karena airnya saya rasa kotor, maka saya tak pernah lagi memintanya, mendingan saya beli air dalam botol aja, inilah Jakarta.

Walaupun berat, saya paksa badan ini untuk bangun, lalu saya pergi ke toilet untuk menyiram lubang toilet dengan urine. Ketika keluar dari toilet, saya melihat sekelebat mahluk berkaos merah, mahluk itu begitu tampan, aneh.. namun ketika saya melihat ke sekeliling tidak ada siapa-siapa, karena nyawa saya belum terkumpul semua, mungkin..

Setelah beberapa detik saya sadari bahwa mahluk tampan yang berkaos merah yang ada dalam cermin tu adalah saya sendiri.. hah!! Sayakah itu??
Berfikir beberapa saat, dan.. iya, ternyata saya.

Saya bersumpah, tak akan saya lewatkan begitu saja moment aneh bin ajaib ini!! langsung saja saya kembali ke kamar dan mengambil hp, langsung saya set hp ke kamera dan.. CLICK!!!

to be continued..

Sebuah cerita tak penting yang ingin saya tuangkan di blog