Hari ini saya lelah sekali, lewati gang besar untuk mencapai kost-an dan segera merebahkan badan sejenak.
Saya buka kunci kamar, simpan tas yang saya bawa, nyalakan kipas angin, lalu menempelkan badan di kasur.
Panas sekali badan ini, putaran maksimal kipas angin tak mampu redakan panas dalam tubuh saya yang sepulang bekerja tadi.
Beberapa menit sambil memejamkan mata, saya teringat kejadian tadi sore ketika saya di kereta dari Depok menuju kost-an saya di Cikini.
Dalam kereta tadi saya bertemu 5 orang anak muda, 4 laki-laki, 1 perempuan. Mereka begitu gaduh, rame dan bahagia sepertinya setelah melewati hari-harinya. Saya lalu bertanya kepada salah seorang dari mereka, Raka namanya, ternyata dia seorang fundraiser atau pencari dana untuk sebuah LSM lingkungan global yang sudah terkenal, karena saya sangat tertarik dengan apa yang mereka lakukan, maka saya banyak bertanya mengenai dia dan teman-temannya, mengenai pekerjaan mereka dan suka duka yang mereka lalui ketika mereka melakukan pekerjaan tersebut.
Lalu Raka mulai bercerita, bahwa pada awalnya dia tidak tahu akan bekerja seperti sekarang ini. Ia turun ke jalan, busway, pusat perbelanjaan ataupun kampus-kampus untuk mensosialisasikan apa yang LSM lingkungan itu lakukan, kemudian mengajak orang untuk bergabung dengan LSM lingkungan itu, karena LSM itu adalah LSM yang independen, tidak menerima dana dari pemerintah, partai politik ataupun perusahaan, "supaya kami tidak ketergantungan, ataupun ada intervensi dari pihak manapun dalam penyelamatan lingkungan" katanya. "Berbagai hal sudah kami lalui," lanjut Raka "dari mulai ditolak orang, dicemberutin, dimarahin orang yang tidak setuju dengan kegiatan yang kami lakukan dan banyak-banyak lagi, namun itu semua tidak dapat meluluhkan semangat kami untuk ikut andil dalam penyelamatan lingkungan, malah tambah membuat kami jatuh cinta dan ingin terus menyelamatkan lingkungan, karena adanya LSM kami itu ya.. karena ada kami-kami ini para fundraiser-nya" tutup Raka dengan bangga.
Memang tampak ceria sekali teman baru saya ini, ia seakan tak pernah lelah, walaupun tadi dia cerita bahwa dia sudah dari sejak jam delapan menuju kampus di Bogor, dan baru pulang pukul tujuh malam, itupun belum sampai ke rumanya, mungkin akan menghabiskan waktu sampai pukul delapan ke rumahnya.
Kekaguman tak pernah padam dari raut muka saya, kekaguman kepada lima orang pemuda sebaya saya itu, karena saya yakin bahwa mengajak orang, meyakinkan orang, merubah paradigma orang dan membuat orang untuk mau mendonasikan uang itu bukan pekerjaan yang mudah.
Tapi kesan tersebut seolah hilang demi melihat senyum dan tawa ceria kelima orang tersebut.
Ya, mereka lima pemuda dari ribuan bahkan jutaan pemuda lainnya yang gigih mau berbuat sesuatu untuk penyelamatan lingkungan.
"Saya ingin berbuat sesuatu juga untuk lingkungan, dengan cara apapun" tekad saya, sambil pamit kepada mereka berlima yang terus saja meneruskan perjalanan, entah sampai mana, karena saya tadi tidak bertanya, mungkin terlalu asik dengan pokok bahasan mengenai mereka, dan tentu saja saya terinspirasi untuk berbuat sesuatu juga, itu harus.
22 Maret 2010
Saya buka kunci kamar, simpan tas yang saya bawa, nyalakan kipas angin, lalu menempelkan badan di kasur.
Panas sekali badan ini, putaran maksimal kipas angin tak mampu redakan panas dalam tubuh saya yang sepulang bekerja tadi.
Beberapa menit sambil memejamkan mata, saya teringat kejadian tadi sore ketika saya di kereta dari Depok menuju kost-an saya di Cikini.
Dalam kereta tadi saya bertemu 5 orang anak muda, 4 laki-laki, 1 perempuan. Mereka begitu gaduh, rame dan bahagia sepertinya setelah melewati hari-harinya. Saya lalu bertanya kepada salah seorang dari mereka, Raka namanya, ternyata dia seorang fundraiser atau pencari dana untuk sebuah LSM lingkungan global yang sudah terkenal, karena saya sangat tertarik dengan apa yang mereka lakukan, maka saya banyak bertanya mengenai dia dan teman-temannya, mengenai pekerjaan mereka dan suka duka yang mereka lalui ketika mereka melakukan pekerjaan tersebut.
Lalu Raka mulai bercerita, bahwa pada awalnya dia tidak tahu akan bekerja seperti sekarang ini. Ia turun ke jalan, busway, pusat perbelanjaan ataupun kampus-kampus untuk mensosialisasikan apa yang LSM lingkungan itu lakukan, kemudian mengajak orang untuk bergabung dengan LSM lingkungan itu, karena LSM itu adalah LSM yang independen, tidak menerima dana dari pemerintah, partai politik ataupun perusahaan, "supaya kami tidak ketergantungan, ataupun ada intervensi dari pihak manapun dalam penyelamatan lingkungan" katanya. "Berbagai hal sudah kami lalui," lanjut Raka "dari mulai ditolak orang, dicemberutin, dimarahin orang yang tidak setuju dengan kegiatan yang kami lakukan dan banyak-banyak lagi, namun itu semua tidak dapat meluluhkan semangat kami untuk ikut andil dalam penyelamatan lingkungan, malah tambah membuat kami jatuh cinta dan ingin terus menyelamatkan lingkungan, karena adanya LSM kami itu ya.. karena ada kami-kami ini para fundraiser-nya" tutup Raka dengan bangga.
Memang tampak ceria sekali teman baru saya ini, ia seakan tak pernah lelah, walaupun tadi dia cerita bahwa dia sudah dari sejak jam delapan menuju kampus di Bogor, dan baru pulang pukul tujuh malam, itupun belum sampai ke rumanya, mungkin akan menghabiskan waktu sampai pukul delapan ke rumahnya.
Kekaguman tak pernah padam dari raut muka saya, kekaguman kepada lima orang pemuda sebaya saya itu, karena saya yakin bahwa mengajak orang, meyakinkan orang, merubah paradigma orang dan membuat orang untuk mau mendonasikan uang itu bukan pekerjaan yang mudah.
Tapi kesan tersebut seolah hilang demi melihat senyum dan tawa ceria kelima orang tersebut.
Ya, mereka lima pemuda dari ribuan bahkan jutaan pemuda lainnya yang gigih mau berbuat sesuatu untuk penyelamatan lingkungan.
"Saya ingin berbuat sesuatu juga untuk lingkungan, dengan cara apapun" tekad saya, sambil pamit kepada mereka berlima yang terus saja meneruskan perjalanan, entah sampai mana, karena saya tadi tidak bertanya, mungkin terlalu asik dengan pokok bahasan mengenai mereka, dan tentu saja saya terinspirasi untuk berbuat sesuatu juga, itu harus.
22 Maret 2010

Tidak ada komentar:
Posting Komentar