Melihat iklan di televisi, belum juga mulai masa kampanye, beberapa partai sudah mempromosikan partai mereka demi merebut simpati masyarakat, sehingga nanti pada saatnya mereka berharap juara pada pemilihan selanjutnya.
Saya teringat pada beberapa tahun silam, ketika itu saya baru lulus SMA, ketua pemuda dikampung saya mengajak ikut pawai kampanye di sebuh daerah di kota Bogor, lumayan jauh dari rumah saya. Sebelum berangkat pagi-pagi, saya makan dulu, takutnya memang tidak ada pembagian makan, karena semua panitia pasti repot mensukseskan acara kampanye kali ini. Betul saja, setibanya saya di rumah tim suskesnya, beberapa puluh orang sudah siap untuk berangkat, ada yang mukanya dicoreng-coreng dengan gambar lambang partai, ada yang rambutnya dicukur dengan mode lambang partai, ada yang memakai ikat kepala bergambar partai saja, ada orang tua yang membawa anaknya, ada beberapa motor yang didandani dan ditempel stiker gambar partai, mobil truk (yang akan saya dan kawan-kawan naiki, karena tidak membawa motor) yang juga sama ditempeli stiker-stiker partai, beberapa orang sibuk mengurusi sound system didalam truk, sehingga nanti kami bisa teriak-teriak mengagungkan nama partai yang kami dukung hari ini.
Hampir semua orang dikampung saya sibuk pada hari itu, tua muda, laki-laki maupun perempuan semua mempersiapkan diri untuk bisa ikut serta dalam kampanye partai yang sudah kami percaya, karena kami merasa kami akan mendapatkan angin segar, dapat meningkatkan kesejahtraan ekonomi, kemakmuran kampung, pendidikan yang murah dan berkualitas, rumah sakit yang tak perlu bayar dan hal-hal bagus lainnya yang membuat kami rela dengan sepenuh hati mendukung partai ini.
Dalam truk yang saya naiki hanya ada beberapa kardus air minum dalam gelas, yang dalam setengah perjalanan saja air itu sudah habis karena memang terik sekali matahari pagi ini. Disamping kiri, depan dan belakang truk yang kami naiki ada beberapa motor yang sejak tadi mengawal pelan, sambil membunyikan klakson dan membuat gaduh disepanjang jalan, belum lagi sound system yang ada dalam truk yang sejak tadi mic-nya dipegang secara bergantian dan terus saja mengagungkan partai dan calon wakil rakyat yang kita dukung.
Banyak orang yang melihat ulah kami disepanjang jalan itu, ada yang mendukung, karena mereka satu hati untuk memilih partai yang kami jagokan, namun tak sedikit yang mencibir, menunjukan muka muak (mungkin mereka berasal dari partai yang kontra dengan kami, atau mereka bukan dari partai mana-mana, hanya saja mereka merasa terganggu dengan kami yang melewati kampungnya dan membuat kegaduhan melalui mic dan klakson yang dibunyikan motor dan mobil yang beriringan, membuat hal yang tidak simpatik buat mereka), ada pula yang melemparkan botol-botol plastik kearah mobil kami, tentu saja beberapa pemuda yang jiwanya masih bergejolak seperti saya tidak terima dengan hal tersebut, lalu kami coba turun dan mengejar pelempar botol-botol tersebut, suasana memanas, dibawah matahari yang terik, lalu ada yang menyulut emosi, tak ayal kami semua turun dari truk, dan menangkap orang yang melempar tadi, beberapa orang yang sepertinya teman si pelempar tak tinggal diam, terjadilah pertengkaran, adu jotos tak terhindarkan. Namun hal tersebut tak berlangsung lama, polisi sudah siap dan berjaga, sehingga mereka dapat mengamankan situasi kacau ini. Saya puas karena beberapa kali saya mendaratkan pukulan saya kearah musuh, tanpa terkena satu pukulan pun dari pihak musuh, saya, kami anak muda yang darahnya masih bergejolak merasa sangat hebat dengan kejadian tersebut, demi membela partai dan calon yang kami jagokan, kami tidak mau partai kami dihina dan dilecehkan seperti itu!!
Lapar, haus, panas, tangisan balita yang sangat kencang dalam truk tak kami hiraukan yang penting kami dapat turut serta dan ambil bagian untuk mendukung jagoan kami pada pemilihan waktu itu.
Beberapa orang tim suskes yang berada dalam mobil pribadi yang ber-AC tampak tersenyum puas melihat dukungan kami yang begitu besar pada partainya, tampak mereka minum minuman segar bergambar jeruk dikalengnya, makan makanan ringan, sambil sesekali melihat keadan sekitar..
Itu kejadian beberapa tahun silam, namun pada tahun itu, setelah partai dan calon yang kami jagokan menang, semuanya kembali seperti semula, sepi lagi kampung kami, semua orang kembali ke aktifitas masing-masing. Bertani, menjadi pengangguran (karena mayoritas pemuda kampung kami pengangguran, termasuk saya), ada yang ngojek, ya seperti biasa lah, tak ada perubahan yang berarti, seperti yang sudah dijanjikan sebelumnya oleh calon jagon kami. Mungkin ia sudah senang di kursi DPR sana, atau mungkin terlalu pusing memikirkan kerjaan mereka, tak tahulah..
Melihat televisi rame-rame sambil ngobrol ngalor-ngidul di warung kopi menjadi kebiasaan kami orang-orang kampung. Ada berita mengejutkan mengenai anggota DPR yang ditangkap gara-gara kasus korupsi, ada pula berita lain mengenai anggota DPR yang sedang bersama wanita panggilan yang digerebek polisi disebuah hotel berbintang lima. Betapa terkejutnya kami, ternyata beberapa dari mereka adalah wakil-wakil yang kami pilih, yang kami agung-agungkan, yang kami bela mati-matian, yang apabila panas, haus, letih, lesu tak kami hiraukan demi melihat mereka berpidato, meniupkan angin segar nan penuh harapan ke telinga kami..
Iya, itu kejadian silam, tapi salahkah kalau kami sekarang selalu antipati terhadap pemilihan-pemilihan seperti itu??
03 April 2010


keren wank
BalasHapus